Izin Penerbitan

PERNYATAAN & IZIN PENERBITAN

Seluruh cerita disini adalah cerita fiksi belaka. Tidak ada unsur kesengajaan apabila terdapat nama atau tempat atau waktu yang sama dengan ...

Kamis, 07 Januari 2021

Saat Hati Bicara #16

Cerita bersambung

Pandu terpaku dimobilnya. Ada bara menyulut dadanya. Panas, tapi mengapa? Hanya melihat Maruti pergi bersama Agus dan anaknya, apakah itu salah?
"Ya salah lah, kan aku mau mengajakmu pulang bersama dan berbicara hal2 yang tadinya kamu bicarakan tentang Dita, mengapa kamu pergi bersama Agus?" bisiknya lirih penuh rasa kesal.

Panji mengundurkan mobilnya kembali dan keluar dari area perkantoran itu. Ia lupa bahwa tadi tidak mengatakan akan menjemputnya.
***

Disebuah area permainan anak2, Sasa sedng berteriak teriak gembira. Ia duduk di kursi ayunan, dan tanpa henti minta agar Maruti mengayunkannya.

"Dita, tante capek dong, gantian mbak ya yang mengayun kamu?" kata Endang, si mbak perawat.
"Nggak mau, aku maunya sama tante Maruti.." teriak Sasa sambil tertawa tawa.

Melihat hal itu Agus mendekat.
"Biar papa saja ya... sudah Maruti, kamu duduklah beriatirahat.
"Jangaaan... diayun papa sama tante Maruti aja.. ayo.. berdua.. berduaaa..." pinta Sasa sambil merengek.
"Biar saya saja pak, nggak capek kok," kata Maruti.
"Tante sama papa aja.. ayo... cepat....," Sasa masih merengek rengek.
Dan terpaksa Agus dan Maruti menurutinya, satu memegangi tali disebelah kiri dan satunya sebelah kanan. Sasa tertawa tawa senang, sementara Maruti sebenarnya sedikit sungkan.

Dilihat dari mata orang yang melihatnya, mereka seperti sebuah keluarga yang berbahagia. Ayah, ibu dan anaknya, sementara pembantunya hanya melihat tak jauh dari sana. Dan salah satu orang yang melihatnya itu adalah Panji. Agak lama dia mengamati mereka bertiga yang tampak sedang bergembira, kemudian ia berlalu.. Mungkin daripada darahnya keburu menggelegak karena suhu rasa cemburu yang semakin memanas.

"Sudah ya Sasa, ayo sekarang kita makan.. tadi kamu bilang lapar.." bujuk Agus karena kasihan melihat Maruti yang seperti kelelahan. Sebenarnya sih bukan lelah, tapi sungkan.
"Oh iya, kita makan, lalu main lagi ya?"
"Lho.. nggak lagi dong Sasa, sebentar lagi hari gelap, tante Maruti harus pulang."
"Tapi besok lagi boleh kan?"
"Tanya sama tante, maukah besok main lagi."
"Tante, besok main lagi kan?"
Maruti tersenyum.
"Besok, kalau tante tidak ada pekerjaan ya sayang?"
"Pekerjaan apa?"
"Ya banyak yang harus dikerjakan tante. Kapan2 saja kalau Sasa ingin, boleh main lagi, tapi bukan besok. Ya?" Marut mencoba membujuk. Dan mata bening itu ber kedip2, tapi akhirnya mengangguk.

Mereka kemudian makan dirumah makan yang tak jauh dari area permainan itu. Maruti tak sanggup menolaknya, karena Agus adalah bosnya.

Sasa makan sangat lahap dengan sebentar2 disuapi Maruti, Agus senang melihatnya. Diam2 dia berkhayal, seandainya Maruti benar2 bisa jadi ibunya Sasa, alangkah bahagianya.
***

"Ibu, mengapa mbak Ruti sudah malam begini belum pulang juga?" tanya Dita. Ada rasa curiga, jangan2 kakaknya sedang bersama Panji.
"Mungkin pekerjaannya masih belum selesai Dita," jawab ibunya.
"Tapi ini sudah malam bu."
"Coba saja kamu menelpun, jangan menyuruhnya segera pulang kalau memang dia masih bekerja."
"Dita sudah menelponnya, hape nya nggak aktif."
"Oh ya? Berarti dia masih sibuk."
"Sibuk pergi bersama mas Panji, barangkali," ucap Dita lirih.
"Apa nduk?" tanya bu Tarjo karena nggak begitu jelas mendengar kata2 anaknya.
"Nggak, nggak apa2 bu," Dita mengelak, sungkan juga memperlihatkan rasa cemburunya.
"Kamu mau makan dulu? Makan aja dulu, lalu kamu segera minum obatnya. Ya nduk?"
"Nggak bu, nanti saja."

Tiba2 didengarnya mobil berhenti didepan pagar. Dita setengah berlari menuju pintu, untuk melihat siapa yang datang. Ia ingin mengenali mobil yang mengantarnya, kalau itu Maruti. Namun mobil itu berhenti terlalu kedepan sehingga tak kelihatan dari pintu rumah. Dan tiba2 saja Maruti sudah muncul dari arah pagar.

"Pasti dengan mas Panji," desis Dita lirih.
"Dita, kok berdiri disitu?"
"mBak sama siapa?"
"Sama pak Agus."

Dita menghela nafas lega, kemudian ia berjalan beriringan dengan kakaknya memasuki rumah.
"Kok baru pulang Ruti?" sapa ibunya yang sedang menata meja makan.
"Iya bu, ada tugas dari pak Agus, jadi baru bisa pulang," jawab Maruti tanpa mengatakan tugas apa yang tadi harus dilakukannya.
"Tuh, benar kan, adikmu bertanya terus, karena kamu pulang terlambat."
"Oh ya, kangen ya sama mbak?" canda Maruti.
"Mengapa nggak jawab telponku mbak?"
"Oh batery habis, lupa ngecas Dit."
"Ya sudah, sekarang kakakmu biar ganti baju dulu, lalu kita makan bersama sama ya."
"Waah, ibu masak apa hari ini?"
"Sekarang ibu sering masak, karena permintaan adikmu. Gak apa2, ibu senang kok. Ayo cepat ganti bajumu.
"Ruti mau mandi sebentar bu, biar Dita dan ibu makan saja dulu," kata Maruti sambil berjalan kebelakang.
***

Simbok tengah bersih2 dikamar Panji, ketika tiba2 Laras datang mengejutkannya.
"Hayooo!! Simbok!!"
"Ya ampuun... mbak Laraaas.... jantung simbok hampir copot nih... gawe kaget wae..," ujar simbok sambil mengelus dadanya.
Laras tertawa terkekeh.
"Mana mas Panji mbok?"
"Lha dari pagi belum pulang tuh, masih di kantor barangkali."
"Nggak ada, dari sore sudah mninggalkan kantor. Aku kira sudah pulang."
"Belum mbak, mungkin kerumahnya.. siapa itu.. yang cantik pernah dibawa kesini?"
"Maruti? Nggak ada mbok, aku sudah menelpon, dia juga nggak tau. Biasanya kalau begitu itu terus kerumah, tapi enggak, aku telepone juga nggak diangkat. Kemana ya dia?"
"Ya coba ditunggu dulu to mbak, biar simbok buatkan minuman dulu, mungkin sebentar lagi pulang," kata simbok sambil bergegas kebelakang untuk membuat minuman.
"Kemana dia, katanya mau omong2 soal pekerjaan, lha ini ada yang perlu aku tanyakan, malah dicari cari nggak ketemu," omel Laras sambil bersandar di sofa.
"Ini mbak, simbok buatkan teh anget, diminum dulu sambil menunggu mas Panji. Mudah2an cepat pulang," kata simbok sambil meletakkan secangkir teh diatas meja.
"Terimakasih mbok."

Laras meneguk teh hangatnya, kemudian kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Simbok masak apa?"
"mBak Laras mau makan? Ayuk, ada ayam goreng sama ca brokoli, baru sore tadi simbok memasaknya."
"Hm, enak kayaknya, mau deh mbok.."
"Sebentar, simbok tata mejanya."
"Nggak usah mbok, bawa kesini saja, aku mau makan disini."
"Walah, disini saja? Baiklah," Kata simbok sambil berlalu. Diambilnya piring, nasi dan lauk pauknya dan diletakkan dimeja didepan Laras duduk.
"Hm... sedap bener baunya mbok."
"Cobain dulu, sedap baunya belum tentu enak rasanya lho."
"Kalau masakan simbok, aku percaya pasti enak. Aku makan ya mbok, ayo simbok temenin dong," kata Laras sambil menyendok nasi dan lauknya.
"Nggak mbak, simbok sudah kenyang, perutnya nggak muat lagi diisi makanan. Sudah, dimakan saja, simbok melanjutkan pekerjaan tadi. Kamar mas Panji berantakan, biar simbok ganti dulu sepreinya."
"Ya mbok, silahkan, jangan kaget kalau ini nanti Laras habiskan ya."
"Habiskan saja mbak, simbok malah senang, lha wong sudah masak enak2, mas Panji jarang makan dirumah. Nanti kalau nggak dimakan paling2 simbok bagi sama tetangga," kata simbok sambil menuju ke kamar Panji.

Sa'at Laras makan dengan lahap, tiba2 Panji datang. Tanpa mengucap apapun dia duduk didepan Laras sambil mengawasi sepupunya yang makan dengan lahap.

"Hai mas, jangan sedih kalau jatahmu aku habiskan malam ini," kata Laras sambil mengunyah makanannya. Ia berharap Panji akan membalas olok2nya, tapi dilihatnya sepupu gantengnya itu malah menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.

"Hei... kesambet lagi?"
"Aku sudah memutuskan." akhirnya Panji berucap.
"Memutuskan apa?"

Laras menghabiskan suapan terakhirnya, minum seteguh air dan duduk agak mendekati Panji. Dilihatnya wajah kusut sepupunya.

"Apa yang terjadi?"
"Aku sudah memutuskan, akan mengambil Dita sebagai isteriku."
Laras terpana.

==========

Laras memandangi Panji lekat2, seakan tak percaya akan apa yang didengarnya. bagaimana kakak sepupunya ini bisa begitu mantap mengatakannya, sementara kemarin2 masih ragu2.
Mantap? Tidak. Panji hanya sedang terbakar emosinya, menyala oleh rasa cemburu yang memuncak sampai ubun2nya. Ia kehilangan pegangan, dan ingin melakukan sesuatu yang semoga bisa membuat Maruti sakit hati. Aduhai, kini ia telah memutuskannya, dan esuk pagi ia ingin benar2 melamarnya.

"Mas, membahagiakan bisa dengan menyayanginya, memperlihatkan perhatian, dan tidak harus buru2 menikahinya.
"Bukankah aku harus membuat sempurna kebahagiaan itu?"
"Tapi mas bicara dan memutuskan sesuatu bukan atas dasar ingin melakukannya dengan tulus. Ya kan? Apakah ada sesuatu?" tuduh Laras.
"Kamu menuduh yang bukan2. Kamu tidak percaya pada kakakmu ini." sengit kata Panji.
"Memang iya ! Aku tidak percaya,"jawab Laras tak kalah sengit.

Pokoknya aku akan melamarnya besok. Kalau kamu mau boleh mengantarku, kalau tidak biar aku sama simbok.
"Sama simbok?"
"Iya, simbok itu pengganti ibuku, dia juga sangat menyayangi aku."
"Baiklah, aku kira keputusan ini mas lakukan karena sesuatu sebab. Malam ini mas boleh berpikir jernih, besok pagi aku menunggu kabarnya," kata Laras yang kemudian berdiri untuk berpamit.
"mBook, aku pulang ya mboook !" teriaknya kepada simbok.
"Ada apa malam2 menelpon aku Laras?" kata Maruti menjawab telephone Laras malam itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Laras dari seberang sana.
"Sesuatu apa? Terjadi apa?" Maruti tak mengerti.
"Kamu dan mas Panji? Apa dia lagi marahan sama kamu?"
"Ya enggaklah, kami nggak pernah marahan, lagi pula mas Panji tadi sore menelpon aku.."
"Ngomong apa dia?"
"Eh, mau tau aja...," kata Maruti sambil terkekeh, " dia hanya bilang mau memikirkan permintaanku, gitu, memangnya ada apa?"
"Nggak tau deh, dia kayak orang bingung begitu," kata Laras tanpa mengatakan bahwa Panji berencana melamar Dita besok.
"Ma'afkan aku ya Laras, aku yang membuat semua ini. Aku sedih karena mau kehilangan adikku, tapi aku juga sedih kalau harus kehilangan mas Panji. Aku mengakuinya sekarang Laras, aku sangat mencintai dia," kata Maruti pilu.
"Ya, aku tau itu."
"Tapi aku harus merelakannya demi kebahagiaan adikku."
"Maruti, kamu sudah melakukan yang terbaik, berusaha baik, karena aku tau hatimu sangat mulia. Aku yakin semua akan indah pada akhirnya."
"Terimakasih Laras."
"Marilah kita berdo'a yang terbaik untuk semuanya ya Rut?"

Maruti menutup ponselnya, masih dengan berlinangan air mata. Bukan hanya karena harus kehilangan orang yang dicintainya, tapi karena ia telah melukai perasaan Panji juga.

"Ya Tuhan, berilah yang terbaik untuk semuanya," bisik Maruti sambil terus berlinangan air mata.
***

"mBok sudah mandi ?" tanya Panji pagi itu.
"Sudah mas, tadi habis nyuci simbok sekalian mandi. Ini mau kepasar, mas Panji mau dimasakin apa, tapi harus dimakan lho, siang nanti pulang ya."
"Nggak usah mbok, simbok nggak usah kepasar."
"Lho, jadi nanti nggak akan pulang untuk makan siang?"
"Simbok harus ikut aku."
"Lho, kemana? Mau ajak simbok jalan2? Ini kan hari Kamis, mas nggak ke kantor?"
"Nanti aku kekantor, tapi simbok ikut aku dulu sekarang, ganti bajunya yang bagus ya,."
"Nanti dulu to mas, lha simbok ini mau diajak kemana dulu, jadi simbok bisa milih baju yang cocog yang mana. Jalan2.. bertamu.. belanja.. kan harus beda bajunya."
"Simbok ini kayak artis saja. Pokoknya baju yang pantas lah, bertamu mbok.. bertamu.."
"Bertamu? Memangnya bertamu kemana mas? Tumben2an simbok diajak bertamu."
"mBok, jangan banyak bertanya, nanti sambil jalan aku kasih tau. Cepat mbok."
Dan simbokpun setengah berlari menuju kamarnya. Ia tau momongannya tampaknya kesal dengan pertanyaan2nya.

Panji menunggu simbok sambil menyandarkan kepalanya disandaran sofa. Sesungguhnya hatinya serasa tidak tenang. Bayangan Maruti yang sedang mengayun anaknya Agus, dan tampak sangat gembira, kembali mengusik hatinya. Sungguh ia cemburu, karena tau sejak awal Agus memang tertarik Pada Maruti. Hanya karena segan padanya saja Agus tidak meneruskan niyatnya. Tapi sore kemarin mereka tampak begitu akrab. Apa Maruti sudah mengatakan kalau aku akan diminta untuk menyukai adiknya karena penyakitnya? Sehingga itu memberi peluang kepada Agus untuk bisa mendekatinya? Semakin difikirkan, darah ditubuhnya semakin cepat mengaliri urat nadinya, membuat kepalanya menjadi pusing. Ketika simbok datang  Panji masih bersandar sambil memijit mijit kepalanya.. matanya terpejam.

"Lho, mas, simbok sudah cantik begini, mas Panji kok malah masih leyeh2 begitu? Mas pusing ya, kok kepalanya dipijit pijit?

Panji membuka matanya, dilihatnya simbok berdiri dihadapannya, mengenakan kebaya warna coklat muda, dan selendang batik tersampir dipundaknya. Kalau tidak sedang kacau pikirannya pasti Panji segera menggoda pamongnya. Tapi kemudian hatinya sedih teringat almarhum ibunya, karena baju dan selendang yang dipakai simbok adalah pemberiannya. Dalam keadaan hati rapuh, teringat ibundanya, tak tahan lagi menitiklah air mata Panji. Seandainya ibunya masih ada, pasti ia akan lebih menguatkannya.

"Ya Tuhan, kalaupun aku tak melakukannya, apa aku salah? Aku berhak menentukan apa yang harus aku lakukan, dan Dita bukan apa2ku, mengapa aku harus berkorban?" bisik Panji pelan.
Tapi segera terbayang wajah Maruti, menangis dipangkuannya, sungguh pilu merasakannya.
"Nggak, nggak jadi saja," katanya pelan, lalu diminumnya seteguk teh yang tak lagi hangat.

Simbok memandangi momongannya dengan heran. Simbok juga melihat air mata dipipi momongannya. Segera simbok mendekat dan bersimpuh dihadapannya.

"Mas Panji, sebenarnya ada apa?" tanya simbok penuh kasih sayang.
"mBok, tolong ambilkan obat pusing dialmari obat ya,"
"Oh, yang emplek2an warna ijo?"
"Ya, "

Simbok segera berlari kebelakang, sambil membawa cangkir teh momongannya untuk diisikannya lagi sekaliyan. Simbok sudah tau obat pusing yang mana karena sudah sering melayani momongannya. Di almari itu ada obat pusing, obat diare, obat mual. Huh.. kayak apotik saja, pikir simbok, tapi simbok segera mengambil yang dibutuhkannya.

Panji benar2 pusing, keputusan yang diambilnya sangat berat. Mngkin Maruti juga berat melepaskan cintanya. Tapi tiba2 terbayang kembali ayunan dengan anak kecil duduk berayun, dan Maruti serta Agus mengayunkannya bersama sama. Kembali panas darahnya menggelegak,. Aku akan melakukannya, biar sakit hati Maruti kalau aku menampakkan kemesraan dengan adiknya.

"Ini mas, obatnya," kata simbok sambil mengangsurkan obat dan minumannya.
"Terimakasih mbok, sementara simbok mengunci semua pintu, kita segera berangkat."

Simbokpun mundur dan memeriksa semua pintu, kemudian menunggu momongannya didepan.
***

"Maas, tunggu mas, aku ikut.." tiba2 teriakan Laras mengejutkannya. Ia memasuki halaman dengan tergesa gesa.
"Kamu naik apa?"
"Taksi, jadi mas berangkat? Oh, ada simbok.."

Laras memasuki mobil, duduk disamping kemudi, dan mobil itu melaju pelan keluar dari halaman.
"Cantik bener simbok.." puji Laras ketika melihat simbok dandan.
"Iya tuh, nggak tau mau diajak kemana ini sama mas Panji."
"Jadi mas?"
"Jadi, kenapa tidak?"
"Sudah mas fikirkan masak?"
"Bukan cuma masak,. lebih dari masak, aku harus melakukannya."
"Mengapa harus menikahinya?"
"Kata Maruti biar kebahagiaannya sempurna, ya sudah aku lakukan saja."
"Maruti pasti juga sakit."
"Biar saja sakit, ini kan maunya? Lagi pula kan mudah bagi Maruti untuk melupakan aku, mengapa harus dikasihani? "
"Kok mas bilang begitu, Maruti sangat mencintai mas. Sungguh."
"Bohong, itu bohong."
"Mas Panji kok gitu, dia bilang sama aku kalau sangat mencintai mas Panji."
"Itu bohong, kalau dia mencintai aku, tak akan mudah bagi dia untuk bermanis manis dengan pria lain," kata Panji geram.
"Priya lain yang mana?" Laras heran..
"Sudah, jangan banyak tanya, nanti aja aku ceriterakan, aku sedang galau nih."

Laras tak menjawab. Tapi diam2 dia berfikir, bermanis manis dengan siapa? Baru tadi malam Maruti mengatakan bahwa sangat mencintai Panji.

Mobil terus melaju dijalanan yang mulai ramai oleh hiruk pikuk kendaraan. Mereka bertiga sedang berembug dengan pikirannya masing2. Simbok juga sedang menduga duga apa yang akan dilakukan momongannya.

Panji menghela nafas ketika akhirnya sampai juga didepan pagar rumah Maruti. Mobil itu berhenti, dan Panji menata batinnya.

"Mas, Laras peringatkan sekali lagi, dekatilah dia dulu, nggak usah buru2 melamarnya."
Tapi Panji segera turun dari mobil, berjalan kearah rumah diikuti oleh simbok dan Laras.

Jadikah Panji melamarnya?

Bersambung #16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah komentar secara santun dan simpel

POSTING POPULER